Wednesday, September 16, 2009

PENUNDAAN YANG MENGUJI IMAN

Penundaan Dapat Menjadi Sebuah Berkat ~ Anda dan saya tahu dengan baik bahwa dalam kehidupan terdapat banyak penundaan yang mengejutkan, yang sebagian besar tanpa peringatan. Ditunda selama 15 menit dapat ditoleransi; setelah satu jam, kita siap berseru "tidak adil"; menunggu sehari atau lebih merupakan mimpi buruk yang pantas Anda ceritakan berulang-ulang kepada cucu-cucu Anda nanti! Apa yang akan Anda lakukan bila ditunda selama 39 tahun? Tiga puluh sembilan tahun dalam penantian?

Selama itulah Sara dan Abraham menantikan penggenapan janji Allah atas mereka. Abraham sudah berumur 70an tahun saat Allah kembali mengatakan kepadanya bahwa anak-anaknya, keluarga serta keturunan mereka, pada akhirnya memenuhi bumi, begitu banyak seperti "debu yang menutupi bumi". Tetapi Sarah tetap tidak memiliki anak selama bertahun-tahun, dan ia serta Abraham semakin tua sementara mereka menantikan Allah untuk mengubah situasi mereka.


Akhirnya seperti yang dicatat dalam Kejadian 21:1-2, "TUHAN memperhatikan Sarah, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sarah seperti yang dijanjikan-Nya. Maka mengandunglah Sarah, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya." Abraham berumur 100 tahun saat Ishak putranya lahir dan Sarah berumur 90 tahun saat ia menyusui anak yang dijanjikan kepadanya.

Bahkan di zaman Alkitab, kelahiran seorang anak bagi pria berusia 100 tahun dan istrinya yang berusia 90 tahun dianggap sebagai kemustahilan. Malah sebenarnya Sarah menertawakan hal tersebut. "Setiap orang yang mendengarkannya akan tertawa karena aku" (Kejadian 21:6-7). Namun apa yang dianggap "mustahil" oleh manusia, kuasa adikodrati Allah memungkinkan kelahiran ini terjadi. Di mana tidak ada pengharapan, tidak ada kemungkinan, Allah memberikan sebuah mujizat.

Memurnikan Iman Dengan Api

Kehidupan Abraham dan Sara adalah sebuah pelajaran dalam janji-janji yang tertunda. Pelajaran yang mereka dapatkan tidak ditimba dalam kelas, namun dalam perapian kehidupan. Pergumulan iman Abraham dan Sara dicatat dalam Kitab Suci untuk mendorong semangat mereka yang percaya dan tetap setia selama masa-masa penundaan, kesunyian dan keadaan tanpa buah.

Kehidupan iman dibangun di seputar janji-janji yang diberikan, pengujian yang dihadapi dan penggenapan yang dinikmati. Untuk setiap janji, ada sebuah pengujian, dan untuk setiap pengujian ada anugerah, rahmat dan kekuatan dari Yang Mahakuasa bagi kita supaya mampu melaluinya (Mazmur 105:19).

Imanilah Sampai Anda Berhasil

Penundaan Sarah dalam melahirkan anak dipatahkan oleh kepercayaan pada janji "dan TUHAN melakukan kepada Sarah seperti yang dijanjikan-Nya" (Kejadian 21:1). Kepercayaan kita pada firman Allah atau pada janji dikarenakan imanlah yang akan mematahkan janji-janji yang tertunda atas kita, bukan karena pikiran alamiah.

Roma 4:20 berkata, "Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah". Abraham tidak "bimbang" atau "goyang karena ketidakpercayaan." Ia menolak ketidakpercayaan dan tetap setia pada janji Allah. Ketidakpercayaan, keraguan dan kebimbangan semuanya merupakan produk dari hati yang kosong (Mazmur 78:19; 2 Raj. 7:2).

Sebaliknya, ketika Allah menjanjikan sesuatu, kita harus mengobarkan kuasa-Nya dan menyerahkan keadaan kepada kehendak-Nya. Semakin sulit penggenapannya, semakin berkuasa dan semakin indah pendewasaan iman kita. Iman tumbuh melalui pengujian iman, musim penundaan dan kesunyian.
Iman yang kuat bukanlah iman yang irasional - melainkan ia didukung oleh banyak alasan. Semua alasan yang membenarkan kepercayaan kita akan Allah adalah alasan yang membenarkan keyakinan kita yang kokoh terhadap-Nya. Ia tidak dapat berdusta! Ia sangat berkuasa! Ia adalah Allah! Adakah sesuatu yang terlalu sulit bagi Allah?

Dengan memiliki keyakinan yang tak dipertanyakan terhadap janji-janji-Nya, kita memberi kemuliaan bagi Allah dan menerobos musim kemandulan. Sama seperti Abraham dan Sarah mematahkan belenggu kemandulan dengan cara mempraktekkan iman kepada Allah, yang selalu menggenapi firman-Nya, demikian pula iman kita dapat bertumbuh kuat saat angin-angin penderitaan terkuat berembus. Iman dan kesabaran mewariskan janji-janji Allah.

Share this:

Related Posts
Disqus Comments