Friday, July 9, 2010

Injil untuk Semua dan Semua untuk Injil

1 Korintus 9:16; 15:1-11
Tanggal 01 Juni 2010 di Indonesia, kita memperingati hari Kasaktian Pancasila. Mengapa Pancasila dikatakan sakti? Karena mampu mengakomodir kepentingan seluruh rakyat Indoensia dan menjadi idiologi bangsa.
Di Amerika Serikat tanggal 01 Juni 2010 presiden Barak Obama mendeklarasikan kebebasan bagi kaum gay, lesbian, biseksual, transeksual untuk menikah dengan mengacu kepada piagam HAM. Hubungan mereka harus diakui, dilegalkan dan harus diterima oleh masyarakat karena mereka juga adalah manusia yang hak-haknya sebagai manusia harus dijunjung tinggi.
Bila kita melihat dunia saat ini, setidaknya 6000 suku bangsa belum mengenal nama Yesus, apalagi menyembah-Nya. Dari sekitar 6,5 milyar penduduk dunia, tidak sampai ½ milyar yang menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran. Pada hal Allah merindukan umat ciptaan-Nya untuk memuji dan menyembah Dia.
Di Indonesia sendiri masih ada 127 suku bangsa yang belum mengenal Tuhan Yesus Kristus secara pribadi. Suku-suku ini sama sekali tidak mempedulikan Allah.
Kita patut bersyukur kepada Allah, karena hidup dalam satu masa di mana Injil paling luas diberitakan di seluruh dunia. Diperkirakan 4 juta hamba Tuhan bekerja keras untuk memberitakan Injil. Biasanya pemberitaan ini dilakukan secara lisan. Tetapi ada juga yang memakai lebih dari 2000 stasiun radio sebagai penyalur berita Injil. Banyak pula hamba Tuhan yang menggunakan media cetak maupun elektronik sebagai sarana untuk memberitakan Injil. Setiap tahun ada 70.000 judul buku Kristen diterbitkan dan diedarkan. Sekarang ini Alkitab atau sebagian dari Alkitab sudah diterjemahkan ke dalam 2.355 bahasa, dengan rincian: seluruh Alkitab (PL & PB) 414 bahasa, khusus PB saja 1.068 bahasa, hanya sebagian dari PB 873 bahasa. Sementara itu, upaya penerjemahan ke dalam 720 bahasa lainnya sedang dilakukan oleh Lembaga Alkitab Sedunia. Dari segi pendistribusian, puluhan juta Alkitab dan PB diperkirakan telah disebarluaskan. Sedangkan ratusan juta eksemplar dari bagian-bagian Alkitab lain telah tersebar.
Pemanfaatan film Yesus juga sangat efektif. Film ini telah diterjemahkan ke dalam 920 bahasa di 101 negara, sehingga banyak orang yang bisa menikmati film ini dalam bahasa mereka sendiri. Fiml ini sendiri sering ditayangkan di TV, meskipun vidionya dapat dimiliki oleh setiap orang.
Jumlah orang Kristen sekarang ini cukup meningkat yaitu ± 200 juta orang Injili. Dari sudut geografi, Injil telah menjangkau semua negara dengan satu jemaat dan setidaknya satu persekutuan, meski dibeberapa negara dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Beberapa tahun yang lalu di salah satu negara di Afrika, sebanyak 50 orang Kristen dipenjarakan. Sebelumnya negara tersebut hanya memiliki segelintir orang yang percaya kepada Kristus. Tapi karena sudah pernah dipenjarakan demi Kristus, mereka tidak harus bersembunyi lagi.
Aktivitas pemberitaan kabar gembira (Injil), sampai dengan saat ini masih tetap relevan. Kendatipun peradaban manusia berubah dengan dunia yang terus berubah-ubah, Injil masih tetap menjadi produk Kerajaan Sorga yang sangat dibutuhkan oleh umat manusia.
Dikatakan demikian, karena Injil satu-satunya produk Kerajaan Sorga yang dapat menjawab masalah manusia dan satu-satunya yang bisa memenuhi kebutuhan mendasar manusia. Masalah manusia yang utama adalah dosa. Walaupun manusia dengan berbagai macam cara berusaha untuk menyelamatkan dirinya, tetapi semua upaya itu gagal.
I. Apa Makna Injil untuk semua?
1. Injil disediakan oleh Allah yang baik kepada semua orang – Kejadian 3:15.
2. Injil untuk semua karena Allah menghendaki semua orang diselamatkan – 2 Petrus 3:9.
3. Injil untuk semua karena pengorbanan dan kematian Yesus di atas kayu salib adalah untuk menebus manusia dari dosa-dosanya – Yohanes 1:29-30.
II. Apa Makna semua untuk Injil?
1. Menjadi berkat bagi sesama – Kejadian 12:1-3.
Pagi itu si petani tua menjumpai serumpun bambu di halaman rumahnya. Hari terus melaju, dan bambu-bambu itu pun semakin bertambah tinggi dan kuat. Petani tua itu berdiri di depan sebatang bambu yang tertinggi dan berkata, “Sobat, aku membutuhkanmu.”
Bambu itu pun menjawab, “Tuan, pakailah aku seperti yang engkau inginkan, aku siap membantu.” Lalu petani itu mulai berbicara serius, “Agar aku bisa memakaimu, engkau harus dibelah menjadi dua.”
Serumpun bambu bergoyang kencang. Mereka terkejut mendengar pernyataan si petani. Sebatang bambu itu pun gemetar, “Membelahku? Mengapa? Tidakkah tuan melihat bahwa aku ini bambu tertinggi dan terbaik di antara teman-temanku? Tuan, jangan belah aku. Pakailah aku seperti yang tuan kehendaki, tapi, please, jangan belah aku....” Si petani mencoba memberi penjelasan kepada bambu itu, “Begini, jika aku tidak membelahmu, aku tidak bisa memakaimu.” Seluruh flora di kebun belakang rumah jadi heboh. Angin juga ikut menahan napasnya. Bambu yang tinggi semampai, anggun nan menawan itu pun berkata lirih, “Tuan, jika memang itu adalah satu-satunya jalan untuk memanfaatkan aku, maka lakukanlah! Aku menurut....”
“Tapi, itu hanya awalnya saja, “ petani tua itu ingin menjelaskan rencananya lebih lanjut, “Aku juga harus memotong semua cabang dan daunmu.”
“Ya Tuhan, jangan biarkan ini menimpaku!” jerit si bambu, “Tuan, apa yang akan tuan lakukan benar-benar akan merusak penampilanku. Tuan, kalau bisa, janganlah pangkas cabang dan daunku.”
“Jika aku tidak memangkas semua cabang dan membersihkan daunmu, bagaimana aku bisa memakaimu?” si petani mulai mendesak si bambu.
Matahari ikut prihatin dan menyembunyikan wajahnya. Sekawanan kupu-kupu terbang mengitari bambu itu dengan gelisah. Serumpun bambu di kebun benar-benar terpukul, dan akhirnya sebatang bambu itu menjawab, “Tuan, pangkaslah aku.”
“Sobat, aku juga harus menyakitimu lagi. Aku harus mengambil hati dan bagian dalammu. Aku harus mengeluarkan isi tubuhmu. Jika ini tidak aku lakukan, aku tidak akan bisa memakaimu.” Tak ada jawaban lagi dari sebatang bambu itu kecuali memberi isyarat patuh dan setuju saja.
Disaksikan serumpun bambu di kebun, si petani menebang bambu itu, membelahnya menjadi dua, memangkas semua cabang dan daun, serta mengosongkan ruas-ruas dalam tubuh bambu itu. Lalu, si petani membawa belahan bambu ke sebidang tanah yang kering, dan menghubungkannya dengan sumber air.
Air pun mengalir melalui bambu, membasahi dan membuat subur tanah yang kering. Akhirnya bambu menjadi paham akan hakikat hidupnya. Bambu memang harus dipotong, dibelah, dan dipangkas agar menjadi berkat bagi kehidupan. Demikian pula dengan kita, supaya dapat dipakai oleh Allah, harus mampu membebaskan diri dari belenggu kemapanan, dan memberi nilai tambah bagi kehidupan ini.
2. Kita memiliki pikiran Kristus – 1 Korintus 2:16; Filipi 2:5-8.
Memiliki pikiran Kristus artinya kita mengidentifikasi diri dengan Kristus. Mengapa kita harus mengidentifikasi diri dengan Kristus? Karena Kristuspun telah mengidentifikasi diri-Nya dengan kita, sehingga apa yang menjadi masalah kita itu juga yang menjadi masalah Yesus – Filipi 2:5-8; Ibrani 4:15. Yesus yang telah mengidentifikasi diri-Nya dengan kita, menjadi Pembebas yang sejati bagi kita, menjadi Pemberi kelegaan bagi kita – Matius 11:28. Ketika kita memiliki pikiran Kristus, maka kita mempunyai spirit yang sama dan bersikap antusias dalam memberitakan Injil.
3. Kita berhutang kepada Injil – Roma 1:14-15.
Dalam dunia ini ada tiga macam hutang, yang pertama, karena seseorang meminjam uang – misalnya saya pinjam uang kepada pak Samosir, selama saya belum mengembalikan uang yang saya pinjam kepada pak Samosir, maka saya tetap menjadi orang yang berhutang. yang kedua, hutang budi – misalnya orang tua saya meninggal, lalu ada dari sanak family yang membawa seekor babi gede – babi besar, maka itu akan menjadi hutang budi yang kemudian akan dibalas oleh saya, dan yang ketiga, kalau sesuatu yang dititipkan kepada seseorang untuk diteruskan kepada orang lain, jadi selama ia belum meneruskan titipan ini, ia berhutang. Rasul Paulus berhutang karena Injil dititipkan kepadanya supaya diberikan kepada mereka yang belum pernah menerima berita tentang keselamatan di dalam dan melalui Tuhan Yesus Kristus, sehingga mereka yang belum pernah mendengar tentang Yesus dapat mendengar – Roma 15:21. Perasaan ini timbul sebagai akibat langsung dari anugerah keselamatan yang telah ia terima, demikian juga seharusnya dengan kita. Karena tidak ada hal lain yang lebih besar untuk ‘membalas’ kebaikan Allah selain melaksanakan pekabaran Injil sehingga orang lain juga dapat mengalami keselamatan yang sama. Tidak ada pelayanan yang terlalu kecil atau pengorbanan yang terlalu besar apabila dilakukan untuk kemuliaan Tuhan.
Kita semua berhutang karena Injil dititipkan kepada kita. Selama kita belum meneruskan Injil kepada mereka yang belum mendengar Injil, maka posisi kita tetap menjadi orang yang berhutang. Mau menjadi orang yang berhutang? Tapi kalo pegang kartu kredit mau.
4. Kita harus memberitakan Injil – 1 Korintus 9:16.
Ada tiga hal yang dikatakan oleh rasul Paulus dalam kaitannya dengan pemberitaan Injil: pertama, memberitakan Injil bukan untuk memegahkan dan menjadi kesombongan bagi diri – “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri” – kedua, memberitakan Injil itu adalah keharusan – “ Sebab itu adalah keharusan bagiku” – ketiga, musibah, malapetaka, celaka akan menimpa jika tidak memberitakan Injil – “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.”
5. Kita rela membagi Injil – 1 Tesalonika 2:8; Roma 10:14-15; 15:21.
Menurut Paulus yang menjadi dasar kerelaannya untuk membagi Injil Allah adalah pertama, kasih dan kedua, membagi hidup.
6. Kita mengungkapkan pengharapan Injil yang kuat – Ibrani 6:19-20.
Pengharapan akan kedatangan Kristus yang kedua merupakan motivasi yang sangat besar dalam hidup setiap orang percaya, bahkan seluruh makhluk (Roma 8:21-22). Dia pasti datang walau tidak seorangpun yang mengetahui hari kedatanganNya. Namun Yesus memberi suatu kepastian bahwa apabila Injil sudah diberitakan keseluruh dunia, maka saatnya sudah tiba (Matius 24:14).
Sikap umat Tuhan dalam menanti kedatangan Tuhan ini seharusnya ditunjukkan dengan cara menyelesaikan Tugas pemberitaan Injil.
7. Kita memberitakan tentang Yesus yang bangkit – 1 Korintus 15:1-10.
Berita yang lansir oleh media, tema dan inti beritanya selalu berubah – berita Ariel, Luna dan Cut Tari. Tapi berita tentang Yesus dan karya Penebusan-Nya, dari zaman Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan sampai dengan hari ini tidak pernah berubah. Manusia memerlukan kasih Allah. Manusia butuh Yesus untuk menyelesaikan masalah dosanya. Tanpa Yesus manusia pasti binasa. Itu sebabnya kita harus memberitakan Injil.
8. Kita meyakinkan orang-orang yang tidak percaya menjadi orang-orang percaya melalui kesaksian hidup kita – Matius 5:13-16; 2 Korintus 3:3.
Untuk meyakinkan mereka yang hendak dimenangkan lewat kesaksian, kita harus hidup dihadapan mereka (ditempat umum) dengan baik dan benar. Bagaimana mungkin mereka percaya dengan kesaksian kita jika cara hidup kita berbeda atau bertolak-belakang dengan apa yang kita katakan dan yakini. Dalam tugas menjadi saksi bagi mereka yang terhilang, kita harus menunjukkan kepada mereka bahwa kita mengetahui jalan keselamatan. Memiliki keberanian dan semangat untuk bersaksi adalah baik, tetapi jika tidak didukung dengan cara hidup yang baik dan benar maka hal itu menjadi tidak berarti. Demikian juga dengan cara hidup. Harus diakui, bahwa dampak dari cara hidup itu lebih besar, tetapi bersaksi itu merupakan pekerjaan yang sangat penting.
Contoh: orang Kristen ke gereja, di tangan kanannya ada Alkitab, tapi di tangan kirinya ada rokok.
III.Penutup
Mari menjadi orang yang berbeban untuk suku-suku bangsa yang belum terjangkau oleh Injil dan memulai merencanakan satu usaha pekabaran Injil untuk memberitakan Injil kepada mereka yang belum percaya.

Share this:

Related Posts
Disqus Comments