Monday, January 24, 2011

Kasih Yang Dibuktikan

Alkitab memberikan penegasan bahwa Allah itu kasih. Artinya Allah yang menjadi sumber kasih. Pada sisi lain, Allah juga membuktikan kasih-Nya. Bukti dari kasih Allah dapat dilihat secara jelas baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Dalam Perjanjian Lama, Allah membuktikan kasih-Nya dimulai dengan menciptakan jagad raya ini. Lalu menciptakan manusia sebagai puncak dari semua ciptaan. Konsistensi Allah dalam membuktikan kasih-Nya juga terlihat dalam upaya memelihara dan memberkati semua yang diciptakan-Nya.

Yang lebih menonjol dari Allah itu kasih ialah ketika manusia jatuh dalam dosa. Walaupun manusia sudah gagal untuk mentaati perintah Allah, namun Allah tidak secara serta merta membinasakan Adam dan Hawa dan membuat lagi Adam dan Hawa yang baru. Kendatipun Allah bisa melakukan hal itu.

Tapi justru Allah dalam kasih-Nya mendatangi dan mencari manusia yang sudah berdosa. Dan Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk mempertanggung jawabkan apa yang mereka lakukan. Namun sayang, manusia bukannya mengakui dan memohon pengampunan, tapi malahan mereka saling mempersalahkan. Sesudah itu Allah menjatuhkan vonis dan mengusir manusia keluar dari taman Eden. Sejak itulah relasi antara Allah dan manusia terputus secara rohani.

Lagi-lagi Allah tetap konsisten dalam membuktikan bahwa Ia adalah kasih. Ia memberi solusi bahwa ada harapan bagi manusia untuk dipulihkan relasinya dengan Allah melalui keturunan perempuan - Kej.3:15. Janji yang mengandung harapan pemulihan dan rekonsiliasi ini terus secara konsisten dijaga oleh Allah sepanjang sejarah Perjanjian Lama.

Melalui para nabi di Perjanjian Lama, Allah terus mengkomunikasikan akan janji kedatang Sang Pembebas dan Penebus manusia berdosa. Sejarah persembahan korban dalam Perjanjian Lama semua merujuk kepada akan datang Satu Pribadi yang sempurna. Allah melalui para nabi menubuatkan hal itu.

Klimaks dari janji yang telah dinubuatkan itu dibuktikan dengan inkarnasi Yesus menjadi manusia. Inkarnasi Yesus menjadi manusia sejati memiliki implikasi bahwa hanya manusia yang tanpa dosa sajalah yang dapat menjadi korban yang memuaskan hati Allah dan keadilannya.

Yesus dalam misi penyelamatan umat manusia berpuncak diatas kayu salib. Dia rela menyerahkan diri-Nya sebagai korban penebusan yang mempersembahkan seluruh hidup-Nya untuk menyelamatkan manusia. Kematian Yesus diatas kayu salib merupakan bukti kasih Allah kepada manusia. Alkitab menulis: "...akan tetapi Allah membuktikan kasih-Nya kepada kita, ketika Kristus mati bagi kita ketika kita masih berdos."

Jadi, ketika Alkitab mengatakan bahwa Allah itu kasih, Alkitab membuktikan bahwa Allah yang kasih itu telah membuktikannya secara sempurna baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru yang klimaksnya dengan inkarnasi Yesus.

Share this:

Related Posts
Disqus Comments