Thursday, January 13, 2011

The Power Of Perspective

Ada seorang anak kecil yang berjalan pulang dari sekolah, tiba-tiba ia dihadang oleh seorang preman. Ia berlari, tapi tidak ada gunanya. Ia tersandung dan jatuh, ketika preman itu mendekat lalu mengancam anak itu, "Ayo, berikan hpmu, kalau tidak aku akan menghabisimu" ucap si preman. Tanpa diketahui oleh si preman, kakak anak itu juga sudah pulang dari kampus dan sekarang ada di belakang si preman. Bila anak kecil itu melihat kepada si preman, ia mungkin merasa takut. Namun bila ia memilih untuk memandang kepada kakaknya, rasa takutnya mungkin hilang, bahkan ia bisa sombong dan tenang. Perbedaannya terletak pada sudut pandangnya.

Perspektif dapat mengubah cara kita melihat sekeliling, memandang kehidupan dan memperhatikan berbagai pergumulan hidup. Cara pandang kita terhadap suatu persoalan dalam hidup itulah yang membuat perbedaan antara ketakutan dan keberanian.

Jadi, sudut pandang itulah yang memberi tahu kita bahwa kita aman di lingkungan mana pun kita berada. Sudut pandang bisa memandang situasi yang tidak menyenangkan sebagai kesempatan yang luar biasa atau sebaliknya.

Yesus berkata: "Lihat, Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala" Lukas 10:3. Dalam perikop yang sama,Dia mengacu pada domba lebih dari satu kali. Dia menyebutkan "domba tanpa gembala" atau "domba yang hilang dari keluarga Israel" dan kemudian "domba di tengah-tengah serigala".

Kedua komentar pertama mengacu kepada domba yang menyedihkan, yang hancur, yang tak berdaya dan tanpa harapan. Komentar ketiga tidak. Dalam komentar ketiga ini, Yesus Sang Gembala Agung, sesungguhnya mengutus kita ke kandang serigala.

Gembala macam apakah itu? Mengapa Gembala yang Baik mengutus kita kepada serigala? Alasannya mungkin karena kita adalah domba yang istimewa. Mungkin kita dipandang sebagai keturunan domba baru yang aneh: "domba ninja mutan muda dengan kemampuan super.

Tidak, perbedaannya bukan pada dombanya, melainkan Gembalanya. Kita semua perlu diingatkan berulang-ulang bahwa kita tidak berbeda dari domba yang hilang, kecuali fakta bahwa kita sekarang memiliki Gembala. Di sini besar sekali perbedaan yang Dia lakukan. Kita tidak perlu takut terhadap segerombolan serigala karena Dia menyertai kita. Ke mana pun kita pergi, Gembala kita ada di sana.

Jadi, mengapa kita diutus kepada serigala? Meskipun Dia menjadi pelindung, penjaga, pembela kita, Dia juga punya misi untuk mencari dan menyelamatkan domba yang hilang. Serigala cenderung berkumpul di mana ada mangsa yang empuk.

Yesus diutus untuk mencari yang terhilang. Orang-orang yang mengikut Dia juga diutus untuk mencari hal yang sama (Yoh.20:21). Sebagai murid Kristus, kita telah bergeser dari korban yang lemah menjadi misionaris yang kuat dan berharga. Gembala Agung bersedia untuk pergi ke kandang serigala untuk menyelamatkan satu domba dari taring serigala yang lapar.

Ini bukan panggilan yang aman, melainkan berharga. Berada di tengah-tengah serigala tidak selalu nyaman. Apakah Yesus tertarik terhadap kenyamanan kita? Tentu saja; itulah sebabnya mengapa Ia mengutus Sang Penghibur yaitu Roh Kudus kepada kita. Namun penghiburan kita bukan berasal dari lingkungan yang aman, melainkan dari sumber kekuatan di dalam. Kekuatan ini paling nyata dalam skenario yang menekan, bahkan ketika kita dikelilingi serigala.

Perhatikan perbedaannya bukan pada domba, melainkan pada kehadiran Gembala. Itu semua yang dibutuhkan untuk bergeser dari pihak yang diburu menjadi pemburu. Ketika kita menghadapi serigala-serigala ganas kita memiliki Penolong Unggul yang siap menjadi sumber kekuatan dan pembela kita. Jika sudut pandang kita benar, kita tidak perlu lari ketakutan.

Share this:

Related Posts
Disqus Comments