Friday, April 29, 2011

Memberitakan Injil Atau Mengalami Celaka

William Carey mengusulkan pendirian badan misi pada pertemuan misi dua abad yang lalu. Pemimpin sidang secara spontan berkata,”Duduklah anak muda, jika Allah ingin mempertobatkan orang kafir, Ia akan melakukannya tanpa bantuanmu atau bantuanku!” Di satu sisi pernyataan di atas benar karena bukan kita melainkan Allah yang berdaulat menyelamatkan manusia berdosa, bahkan Ia akan melakukannya menurut rencana-Nya, tanpa diatur oleh manusia.

Namun di sisi lain terdapat kesalahan mendasar, yaitu ia tidak menanggapi tanggung jawab gereja dalam misi penginjilan. Ia lupa bahwa Allah menyelamatkan manusia dengan cara mengutus hamba-hamba-Nya atau gereja-Nya untuk mengabarkan Injil, seperti ada tertulis,”Pergilah jadikanlah semua bangsa murid-Ku …”

Kepada kita Paulus kembali mengingatkan bahwa celakalah kita jika tidak memberitakan Injil. Dari pernyataan ini marilah kita belajar bersama tentang tanggung jawab untuk terlibat secara proaktif dalam penginjilan, baik melalui komitmen doa, daya maupun dana. Mengapa celaka jika kita tidak memberitakan Injil?

Semua Manusia Butuh Keselamatan

Tujuan Paulus memberitakan Injil adalah supaya boleh memenangkan sebanyak mungkin orang berdosa bagi Kristus. Istilah ‘supaya aku dapat memenangkan/menyelamatkan’ diulang sebanyak enam kali – 1 Kor.19-23 – merupakan penekanan Paulus tentang tujuan dari penginjilan. Mengapa? Karena semua manusia telah berbuat dosa dan upah dosa adalah maut. Tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus – Rom.3:23; 6:23. Selain itu, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya – Rom.1:16-17.

Dengan kata lain, semua manusia membutuhkan anugerah pengampunan dosa dan keselamatan, dan itu hanya dapat diperoleh di dalam nama dan melalui karya penebusan Yesus Kristus Yesus – Kis.4:12; 1 Petr 2:24. Bagi Paulus, sebesar apapun harganya, ia rela membayarnya, agar Injil diberitakan dan orang berdosa diselamatkan, karena kasih Kristus yang menggerakkan hatinya – 2 Kor.5:14; 11:23-28. Karena tujuan Kristus datang ke dunia adalah untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang – Luk.19:10.

Menurut Hudson Taylor, satu-satunya motivasi yang membuat kita mampu bertahan hingga akhir dalam pelayanan misi adalah jika kasih Kristus yang menggerakkan hati kita untuk memberitakan Injil. Kiranya kasih Kristus yang menguasai dan menggerakkan hati dan pikiran kita untuk menginjili. Motivasi ini yang membuat kita mampu bertahan terhadap segala situasi, kondisi, dan ujian zaman.

Memberitakan Injil Kewajiban Kita

Paulus memakai frase ‘Itu (red - Pekabaran Injil) adalah keharusan bagiku’ – 1 Kor.9:16. Istilah ‘keharusan’ menekankan suatu kewajiban yang mutlak dan ahrus dilakukan. Jika tidak, hanya ada dua kemungkinan, yaitu kita taat kepada Allah atau melawan Allah. Itu berarti memberitakan Injil bukan suatu pilihan yang keputusannya ditentukan diri sendiri. Artinya Anda suka atau tidak, mau atau tidak, senang atau tidak, itu merupakan kewajiban yang harus dilakukan.

Alkitab mengatakan jika tidak memberitakan Injil, maka celakalah kita. Ada ancaman hukuman Allah yang sangat serius ditujukan kepada setiap orang Kristen jika tidak memberitakan Injil. Mengapa Paulus berkata,”Celakalah aku jika tidak memberitakan Injil”? Karena ia menyadari bahwa tugas itu adalah Amanat Agung Yesus Kristus – Mat.28:19-20; Mrk.16:15-16; Luk.24:47-48; Yoh.20:21; Kis.1:8. Amanat tersebut diterimanya pada saat terjadi perjumpaan pribadinya dengan Kristus – Kis.9:3-6, 15. Sejak saat itu ia selalu setia, taat, dan rela memberitakan Injil dan menderita demi Kristus. Selain itu, ia juga merasa berhutang Injil kepada orang Yunani dan non-Yunani, itu sebabnya ia memberitakan Injil di Roma – Rom.1:14. Jadi penginjilan adalah suatu kewajiban yang mesti dilakukan dan ibarat hutang yang harus dibayar. Jika tidak, maka ada ancaman konsekuensi hukuman Allah.

Ada Pertanggungjawaban Kepada Allah

Ketika Paulus berbicara tentang kewajiban memberitakan Injil, yang ia sadari adalah adanya penghakiman terakhir atas setiap aspek hidupnya - 1 Kor.3:13-15; 2 Kor.5:9-10. Pada waktu itu setiap orang percaya harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, termasuk kesetiaan dalam menginjili. Istilah yang Paulus gunakan untuk melukiskan penghakiman tersebut adalah olahraga atletik dan tinju, di mana setiap peserta harus melatih dirinya, aktif berlari dan meninju, dan mengikuti aturan main yang ditentukan – 1 Kor.9:24-27. Karena ada wasit yang akan menilai siapa yang menang dan kalah. Tentu yang berhak menerima penghargaan/mahkota adalah para pemenang, bukan yang kalah. Dalam konteks demikianlah, Paulus menegaskan bahwa ia tidak sembarangan berlari dan meninju, tetapi ia menguasai diri, supaya setelah menginjili jangan ia sendiri ditolak, dalam pengertian tidak memperoleh penghargaan/mahkota. Jika Yesus datang kembali nanti, apakah Saudara didapati tetap setia, taat menginjili dan tekun melayani Tuhan? Semoga Tuhan menolong kita.

Share this:

Related Posts
Disqus Comments