Thursday, April 28, 2011

Yesus Teladan dalam Pembelajaran

“Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya” – Lukas 2:47. Paskah dan perayaannya baru saja selesai. Para peziarah yang datang ke Yerusalem bergegas pulang ke kota ataupun kampung masing-masing. Demikian pula dengan Yusuf dan Maria, orangtua jasmani Yesus. Setelah sehari perjalanan, mereka baru menyadari bahwa Yesus tidak ada bersama mereka. Setelah tiga hari pencarian, mereka menemukan Yesus di Bait Suci. Ia tengah bertanya jawab dengan ahli-ahli agama. Awalnya, jemaat yang hadir berpikir hal itu sebagai percakapan biasa antara anak baru gede (ABG) dengan ahli-ahli Taurat. Namun, semakin menyimak percakapan mereka, orang banyak itu mulai takjub dengan pengetahuan dan kebijakan yang ditunjukkan Yesus. Dari mana Yesus yang baru gede ini mendapatkan pengetahuan yang demikian luas?

Rumah & Sinagoge: Pusat Pengajaran

Situasi sosial, ekonomi dan politik pada zaman Yesus terbilang amat sulit. Israel dijajah Romawi. Meski memiliki garis keturunan bangsawan Raja Daud dari garis Yusuf, orangtua Yesus juga terbilang miskin. Seandainya memiliki cukup banyak uang, tidak mudah bagi anak-anak Yahudi untuk belajar di sekolah bergengsi. Namun, hal itu tidak menghalangi anak-anak Israel belajar dan menimba pengetahuan. Bagaimana caranya? Sepanjang zaman Alkitab, rumah telah menjadi tempat belajar yang penting sejak semula, dan orangtua sebagai pengajarnya. Rumah dipandang sebagai tempat pertama dan paling efektif dalam proses pendidikan. Orangtua juga sebagai guru yang utama dan paling efektif bagi anak-anaknya. Tanggung jawab ini menunjuk pada Kejadian 18:19. Tuhan meminta Abraham mengajar anak-anaknya dan seisi rumahnya untuk hidup menurut jalan Tuhan.

Pentingnya tugas ini ditegaskan dalam Pentateukh (Ulangan 6:7) dan kitab Amsal. “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” – Amsal 22:6. Taurat diajarkan sedini mungkin. Seorang ayah punya tanggung jawab mengajarkan pengetahuan agama kepada anak-anak lewat teladan, percakapan dan cerita. Dalam perkembangannya, sinagoge juga menjadi tempat pengajaran. Sistem pendidikan dasar berkembang di sini. Anak laki-laki mulai masuk sekolah dasar yang disebut bêt has-sefer (rumah kitab) pada usia lima tahun. Pendidikan di zaman Perjanjian Lama tujuan utamanya adalah mempelajari dan menaati hukum Tuhan, yaitu Taurat. Tujuan kedua ialah mengajarkan aspek-aspek praktikal kehidupan sehari-hari. Ketika seorang anak telah berusia dua belas tahun, orang Yahudi percaya bahwa pendidikannya tentang Taurat telah lengkap untuk membantu dia mengenal Hukum dan menjaganya. Ia pun disebut sebagai “Putra Taurat”. Itu sebabnya ketika usia dua belas tahun Yesus berani tampil dan Tanya jawab dengan ahli-ahli agama.

Teladan Sang Guru

Sepanjang hidup-Nya, Yesus tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal. Namun, dunia menyaksikan hikmat dan bijaksana-Nya. Ia juga tidak pernah mengajar di ruang sekolah atau pun kuliah, namun ada ratusan bahkan ribuan murid-Nya yang tersebar di berbagai penjuru di Israel. Kapasitas-Nya sebagai Pengajar tidak perlu diragukan. Sebutan rabi yang melekat pada diri-Nya mengokohkan hal itu. Bagaimana Yesus mengajar? Yesus tidak memakai tempat dan metode tertentu. Ia mampu mengajar di mana saja dan menyesuaikan ajaran-Nya dengan kondisi sekitar-Nya. Ada berbagai cara dan tempat Yesus mengajar, di antaranya:

Pertama, menerangkan Kitab Suci di Sinagoge. Dalam pelayanan-Nya, Yesus banyak mengajar di rumah-rumah ibadat. Salah satu momentum yang fenomenal adalah ketika Yesus membaca Kitab Nabi Yesaya di rumah ibadah di Nazaret. Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” – Lukas 4:16-32.

Kedua, mengajar di lapangan terbuka. Setelah memanggil kedua belas murid-Nya, Yesus mulai mengajar di lapangan terbuka. Misalnya, saat Ia mengucapkan Khotbah di Bukit – Matius 5:1-7. Di lain kesempatan, Yesus juga menyampaikan pengajaran-Nya di tepi pantai Genesaret – Lukas 5:1-3 dan Tiberias – Yohanes 6:1-3.

Ketiga, berbicara langsung. Yesus sering bicara langsung dengan murid-murid-Nya dan orang-orang tertentu. Misalnya, tentang persembahan janda miskin – Markus 12:41-44. Dengan Nikodemus tentang kelahiran kembali – Yohanes 3:1-21. Tentang hidup kekal dengan pemuda kaya – Markus 10:17-27.

Keempat, melakukan tanya-jawab. Pagi-pagi benar Yesus berada di Bait Allah dan mengajar umat. Tiba-tiba ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. “Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu? Tanya mereka dengan maksud mencobai. Sementara mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Yesus pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” – Yohanes 8:1-11. Jawaban telak Yesus tersebut merupakan kisah klasik yang menggetarkan dan mengagumkan tentang hikmat-Nya. Dalam pelayanan dan pengajaran-Nya, Yesus sering menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang menjebak. Pertanyaan tentang kebangkitan, perceraian, hukum yang terutama, pajak dan sebagainya. Semua dijawab dengan lugas dan tuntas.

Kelima, memakai peraga. Suatu saat para murid bertanya tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Untuk menjawab pertanyaan ini, Yesus memanggil anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga” – Matius 18:2-4.

Keenam, memberi teladan. Sementara tengah makan bersama, tiba-tiba Yesus berdiri dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya. Para murid keheranan, apa gerangan yang hendak dilakukan Sang Maha Guru. Belum habis keheranan mereka, Yesus lantas menuangkan air ke dalam sebuah basi dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Pelajaran apakah yang ingin diajarkan Yesus? Lalu Ia berkata: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;…” – Yohanes 13:1-15. Inilah teladan kerendahan hati dan pelayanan yang harus diikuti oleh setiap kita.

Ketujuh, menggunakan perumpamaan. Ketika bicara tentang Kerajaan Allah, Ia tidak mengajak murid-murid-Nya mengunjungi istana Herodes atau Pilatus dengan segala kemegahannya. Sebaliknya, ia justru membawa murid-murid-Nya ke ladang. Yesus mengumpamakan dengan biji sesawi – Lukas 13:18-19. Bahkan ketika bertemu dengan anak-anak dengan segala polahnya yang alami, sementara para murid tengah gusar oleh kepolosan ulah mereka, Yesus justru menjadikan peristiwa ini sebagai contoh bagaimana sikap dan penerimaan kita terhadap Kerajaan Sorga. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya” – Lukas 18:17. Anak-anak adalah pembelajar yang alami. Sama seperti tembok-tembok gereja menjadi pembatas kesaksian hidup Kristen, demikian pula ruang-ruang kelas sering menjadi pembatas seseorang dalam belajar. Yesus Sang Maha Guru Agung telah memberi dan meninggalkan model pembelajaran yang unggul dan berkualitas. Polanya selalu relevan di setiap zaman. Ia mengajarkan suatu pembelajaran dalam banyak hal tentang dinamika kehidupan secara sederhana namun mendalam dan berpengaruh besar dalam pembentukan karakter para murid-Nya. Sebagai murid Kristus, kita juga bisa karena ada Roh Kudus yang diberikan kepada kita untuk mengimplementasikannya dalam arena kehidupan kita.

Share this:

Related Posts
Disqus Comments