Wednesday, May 25, 2011

Peran Gereja Mewujudkan Keluarga Sejahtera

Kualitas kehidupan keluarga mencerminkan kehidupan Gereja. Kualitas kehidupan Gereja mencerminkan kualitas kehidupan dalam masyarakat. Kualitas kehidupan masyarakat mencerminkan kualitas kehidupan bangsa. Artinya, kualitas kehidupan dalam keluarga akan berimbas kepada kualitas kehidupan Gereja dalam masyarakat. Dan kualitas kehidupan masyarakat berdampak kepada kualitas kehidupan bangsa.
Dalam perspektif Kristen, keluarga memiliki peran yang sangat penting dan strategis. Alkitab menempatkan keluarga menjadi lembaga pertama dan utama dalam proses pembentukan kehidupan yang berkualitas – Ulangan 4:6-9. Di sisi lain, Alkitab juga memaparkan tentang komitmen, peran dan tanggungjawab Gereja dalam membangun keluarga sejahtera.

Dilema Demografi

Gereja dalam konteks kekinian, diperhadapkan dengan laju pertambahan penduduk yang sangat pesat. Menurut hasil Sensus Penduduk bulan Mei 2010, jumlah penduduk Indonesia 228 juta orang. Tentu di dalamnya terdapat keluarga-keluarga Kristen. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia sebagai Negara ke-empat terbesar di dunia dengan jumlah penduduknya setelah Cina, India dan Amerika Serikat.

Bertambahnya penduduk Indonesia, hal ini menimbulkan keprihatinan yang mendalam mengingat kondisi perekonomian bangsa kita masih belum pulih akibat krisis global. Kondisi ini tentunya menjadi keprihatinan bersama, termasuk Gereja.

Dampaknya bukan saja masyarakat menjerit, tapi putus asa dan melakukan tindakan nekat. Orangtua tega membuang dan menjual anaknya. Tidak sedikit juga yang membunuh darah dagingnya sendiri. Istri menjual diri. Suami mengorbankan jatidirinya dengan menghalalkan segala cara. Bahkan suami dan istri saling membenci dan berujung kepada perceraian.

Tidak berimbangnya pertambahan penduduk dengan ketersediaan lapangan kerja mendorong terus meningkatnya angka pengangguran. Akibatnya banyak terjadi kerawanan di tengah masyarakat. Penyakit sosial masyarakat tentu akan menjamur. Kenyataan ini tidak dapat dipungkiri.

Nilai-nilai luhur ajaran agama terasa semakin luntur sejalan dengan derasnya arus globalisasi dan semakin meningkatnya proses berinteraksi dan berkomunikasi. Orientasi hidup yang sekuler turut mempercepat lepasnya ikatan batin masyarakat dengan nilai-nilai luhur ajaran agama yang diimaninya. Akibatnya kita dapat menyaksikan betapa kehidupan ini terkesan tidak lagi memiliki rasa malu, minim tanggungjawab. Keserakahan dan mementingkan diri sendiri mendominasi hampir semua elemen masyarakat. Keadaan ini bukan lagi sekadar gejala, tapi sudah hampir membudaya.

Partisipasi Gereja

Di tengah laju pertumbuhan penduduk yang begitu tinggi, Gereja diharapkan untuk berpartisipasi dan berkontribusi mewujudkan keluarga sejahtera. Gereja harus mampu menciptakan peluang-peluang agar jemaat dapat lebih produktif lagi, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Perlu dicari celah-celah usaha agar jemaat bisa diberdayakan.

Hal itu menjadi tugas Gereja. Mengapa? Karena Gereja adalah tempat di mana Tuhan menyampaikan kasih kepada umat-Nya. Lalu bagaimana supaya Gereja itu fungsional? Langkah apa yang harus ditempuh oleh Gereja dalam upaya mewujudkan keluarga sejahtera?

Pertama, optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam. Salah satu perintah Allah kepada manusia ialah supaya manusia mengelola alam ciptaan-Nya secara bertanggung jawab untuk kelangsungan dan kesejahteraan hidup manusia itu sendiri – Kejadian 1:28. Potensi sumber daya alam yang telah tersedia harus dimanfaatkan secara optimal. Tindakan tersebut merupakan suatu upaya konkrit dalam memberdayakan dan menggairahkan ekonomi jemaat.

Kedua, menggalang kerjasama/kemitraan dengan pemerintah. Gereja tidak bisa berjuang sendiri dalam upaya mewujudkan keluarga sejahtera. Gereja juga tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya yang tersedia di dalam jemaat. Perlu membangun dan memperkuat kerjasama secara eksternal dengan pihak pemerintah dan swasta. Artinya, Gereja mampu berjejaring dan bersinergi dengan investor sebagai pemilik modal untuk mendukung upaya Gereja mewujudkan jemaat yang sejahtera. Dalam kaitan ini, pelayanan Gereja pada prinsipnya adalah berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan jemaat secara holistik, sehingga tercipta keseimbangan dalam hidup jasmani dan rohani. Terpenuhinya kebutuhan tersebut akan meningkatkan taraf hidup jemaat, pada gilirannya juga akan berdampak kepada meningkatnya perekonomia Gereja.

Ketiga, mengembangkan potensi lokal tepat guna. Potensi lokal tepat guna yang dimaksudkan di sini ialah menunjuk kepada pertanian, peternakan dan perikanan. Setiap jemaat lokal tentu memiliki potensi tersebut. Untuk itu, Gereja perlu memainkan perannya secara strategis dan benar. Di sini, Gereja berfungsi sebagai fasilitator. Pola pertanian, peternakan dan perikanan ini diarahkan kepada system yang lebih modern dengan hasil yang maksimal. Jemaat tidak lagi melakukan pola pertanian, peternakan dan perikanan dengan menggunakan system tradisional. Jemaat yang tertarik dengan petanian, maka mereka dilengkapi dengan pengetahuan pertanian modern. Jemaat yang menekuni perikanan, maka mereka dilengkapi dengan pengetahuan seputar cara dan metode penangkapan dan pemeliharaan ikan. Jemaat yang ingin mengembangkan sector peternakan, maka mereka perlu diperlengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan peternakan. Semua jemaat didorong untuk memiliki skill khusus di bidang masing-masing. Untuk mewujudkan hal itu, maka Gereja harus menjadi mediator dan fasilitator untuk menghadirkan tenaga-tenaga berkualitas di bidang masing-masing, yaitu pertanian, peternakan dan perikanan. Bila jemaat memiliki pengetahuan dan skill yang memadai tentang potensi lokal yang dimilikinya, maka mereka tidak lagi menggunakan cara-cara tradisional, tetapi cara modern, dengan hasil yang optimal. Hal itu akan berdampak kepada kehidupan ekonomi mereka. Apa yang ditabur oleh Gereja bagi jemaat, tentu Gereja juga yang akan memetik hasilnya. Artinya, bila jemaat secara ekonomi meningkat, maka itu juga akan berpengaruh terhadap perekonomian Gereja. Singkatnya, bila jemaat sejahtera, maka Gereja juga sejahtera.

Keempat, home industry. Usaha kecil merupakan kekuatan ekonomi yang menopang kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia. Dikatakan demikian, karena usaha kecil dapat tumbuh dan berkembang baik di daerah perkotaan maupuan daerah pedesaan. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang berusaha untuk mengembangkan dan menggairahkan ekonomi kerakyatan. Tujuannya adalah untuk mengentaskan kemiskinan.
Gereja perlu tampil untuk memperdulikan masyarakat miskin pada umumnya dan secara khusus jemaat sebagai focus pelayanan utama. Peranan Gereja ialah untuk menaikan derajat hidup dan citra diri masyarakat miskin dari mentalitas kemiskinan (poverty mentality) menjadi memiliki mentalitas kemakmuran (prosperity mentality).
Pendekatan yang dapat dilakukan oleh Gereja untuk menjawab kebutuhan peningkatan ekonomi jemaat ialah melalui industry rumahan (home industry). Pendekatan ini dilakukan dengan cara membina dan melatih jemaat dengan keterampilan khusus, di mana rumah menjadi kantornya. Apabila Gereja berkomitmen untuk membina dan melatih jemaat untuk menekuni usaha home industry, maka kehidupan ekonomi jemaat akan meningkat. Tentu di sisi lain, ada lapangan kerja yang tersedia bagi jemaat, sehingga mengurangi pengangguran.

Kelima, memberdayakan persembahan persepuluhan. Persembahan persepuluhan merupakan persembahan yang ditetapkan oleh Allah. Persembahan persepuluhan dipahami sebagai persembahan 1/10 dari harta/penghasilan seseorang yang dipersembahkan kepada Allah melalui Gereja. Hal ini menjadi keharusan bagi semua jemaat. Alasannya menurut Ruth F. Selan dalam buku Menggali Keuangan Gereja, yaitu: pertama, sebagai upeti dari seorang bawahan kepada atasan; kedua, untuk menyokong pekerjaan keimamatan (Ul. 14:28, 29); ketiga, untuk menyokong orang miskin dan yang berkekurangan (Ul. 14:28-29); keempat, sebagai ucapan syukur atas berkat khusus; kelima, sebagai tindakan ketaatan terhadap perekonomian ilahi yang menyediakan tambahan dari berkat materi dan persediaan ilahi (Mal. 3:10).

Merujuk kepada penjelasan di atas, maka setiap dan semua orang Kristen punya kewajiban untuk memberikan persembahan persepuluhan karena hal tersebut menyukakan dan menyenangkan hati Allah. Prinsipnya ialah kita memahami bahwa Allah merupakan sumber, pemilik dan pemberi berkat bagi kita. Segala sesuatu dari, oleh, untuk dan bagi kemuliaan Allah – Keluaran 9:29; Ulangan 8:18; 10:14; 1 Korintus 10:26.
Gereja punya tanggung penuh untuk mengelola persembahan persepuluhan secara benar dan proporsional serta tidak menyalahgunakannya. Setiap persembahan harus dikelola sebaik-baiknya untuk pemenuhan kebutuhan operasional pelayanan Gereja baik internal maupun eksternal.

Masing-masing Gereja pasti punya kebijakan keuangan tersendiri, khususnya berkaitan dengan persembahan persepuluhan. Namun demikian, kebijakan keuangan Gereja harus menempatkan kesejahteraan jemaat di atas segalanya dan kemaslahatan umat manusia pada umumnya. Artinya, persembahan persepuluhan dapat digunakan untuk membiayai kegiatan atau program-program yang bersentuhan dengan kebutuhan memberdayakan dan menggairahkan ekonomi jemaat.

Perintah Allah kepada orang Israel dan tentu kepada kita juga melalui nabi Yeremia, demikian: “Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel: Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya; …. Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu juga” – Yeremia 29:4-7.
Perintah itu masih tetap relevan. Walaupun suasananya berbeda. Namun, pelayanan Gereja masih dalam konteks demikian. Pelayanan spiritual (berdoa) dan pelayanan sosial ekonomi (dirikanlah rumah dan buatlah kebun). Muaranya ialah kesejahteraan jemaat dan juga masyarakat (kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu).

Share this:

Related Posts
Disqus Comments