Saturday, January 21, 2012

Peran Orantua Dalam Menumbuhkan Pengetahuan Seks Bagi Anak

Kami punya anak laki-laki usia 3 tahun 9 bulan. Namanya Yestosa Shalom Ratu Eda. Ia tumbuh secara luar biasa. Ia cerdas, sehat dan bertumbuh dengan baik. Ia selalu mandi bersama mamanya. Namun, akhir-akhir ini mamanya selalu meminta saya untuk memandikan dia atau mandi bersamanya. Lalu saya menanyakan kepada istri saya apa alasannya? Istri saya menjelaskan bahwa anak laki-laki harus mandi dengan papanya karena menurut istri saya Yestosa sudah waktunya untuk mandi bersama saya.

Kita adalah ciptaan Tuhan. Dia ciptakan kita secara utuh dan sempurna. Tuhan menaruh dalam diri kita berbagai kebutuhan. Salah satu kebutuhan kita ialah kebutuhan akan seks. Sehat tidaknya seksualitas seseorang sangat dipengaruhi oleh proses tumbuh-kembangnya.

Peran orangtua sangat penting dalam tumbuh-kembang kepribadian anak. Salah satu peran yang harus dimainkan oleh orangtua ialah memberikan pengetahuan yang benar kepada anak seputar seksualitas.


1. Anak adalah ciptaan Tuhan (imago dei). Dalam frame ini, orangtua harus memahami bahwa baik anak laki-laki maupun anak perempuan sama di hapan Tuhan. Mereka unik dalam fungsi dan perannya masing-masing. Menerima mereka apa adanya. Maksudnya menerima anak laki-laki sebagai laki-laki dan menerima anak perempuan sebagai perempuan. Ini menjadi landasan yang kuat bagi tumbuh-kembang anak berkaitan dengan pengetahuannya akan seks. Mempermudah anak dalam proses pengembangan gender identity yang berlangsung pada usia 0-3 tahun. Dalam masa inilah seseorang akan menyadari dirinya sebagai laki-laki atau sebagai perempuan. Penolakkan atau perlakuan yang salah oleh orangtua, maka anak bisa mengalami gender ambiguity (kebingungan identitas gender) yang berpotensi menimbulkan sikap atau perilaku transseksual.

2. Jadi model relasi pria-wanita, suami-istri yang sehat dan benar bagi anak. Relasi yang salah dan tidak benar, akan mengganggu anak dalam proses pengembangan gender role behavior (perilaku peran gender). Ini terjadi pada rentang usia 3-5 tahun. Suami yang tidak mau bekerja, istri yang mengontrol suami, kekerasan dalam rumah tangga akan menyulitkan anak dalam pengembangan perannya yang sehat dan benar, sebagai pribadi yang sesuai dengan identitas gender yang dikembangkannya pada tahap sebelumnya. Bila masa initiated tidak dilalui dengan baik, maka anak bisa mengalami deviasi orientasi seksual (homoseks/lesbian).

3. Penuhi intimasi dalam diri anak. Dalam sepanjang masa hidup anak sampai mereka bertemu dengan jodoh mereka dan menikah, orangtua harus memenuhi kebutuhan intimasi dalam diri anak, melalui ungkapan cinta-kasih yang memadai dalam bentuk pemberian pujian, pemberian hadiah, sentuhan, pelukan kasih sayang, pertolongan pada saat diperlukan serta berbagi dalam waktu yang memadai dan berkualitas. Bila anak kekurangan intimasi dengan orangtua, anak akan cenderung pacaran dini (SMP-SMA) dan berpotensi besar untuk melakukan hubungan seksual sebelum menikah.

4. Lindungi anak dari ancaman bahaya yang merusak. Orangtua harus waspada terhadap berbagai ancaman bahaya yang bisa merusak kehidupan anak-anaknya. Karena itu orangtua harus melakukan pendampingan, pengawasan dan perlindungan anak-anak dari bahaya media, pergaulan dan lingkungan. Karena itu perlu hikmat Tuhan dalam memilih tempat tinggal dan sekolah. Saat ini banyak sekolah yang hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi tidak peduli pada kehidupan anak didik itu sendiri, termasuk dalam perilaku seksnya. Dalam soal media, orangtua harus melakukan pembatasan penggunaan media oleh anak. Pendampingan, pengawasan dan perlindungan orangtua sangat diperlukan saat anak menggunakan media, terutama internet.

Mandi bersama anak bisa dilakukan sampai usia anak 2 tahun. Setelah itu anak sudah harus diajarkan untuk menghormati privacy dirinya dan privacy orang lain.

Share this:

Related Posts
Disqus Comments