Thursday, April 12, 2012

PERAN ORANGTUA MEMBANGUN KARAKTER ANAK

Peran orangtua membangun karakter anak ~ Mengembangkan karakter anak merupakan masalah paling serius yang harus ditangani orangtua. Berbagai pendekatan, perlu dilakukan secara keseluruhan. Kesehatan, pendidikan formal, pengajaran bersosial, norma dan agama merupakan hal yang perlu disatukan dalam membentuk karakter mereka.

Ada beberapa contoh atau trik yang bisa dilakukan orang tua untuk mengembangkan kepribadian, tanggung jawab dan karakter yang menghormati orang lain pada anak.

1. Gunakan nama sebutan untuk masing-masing anak.
Dalam masyarakat Indonesia, memanggil seseorang dengan menyebut namanya dan diikuti nama orangtua di belakangnya. Tradisi ini dipercaya bisa membangun anak lebih dewasa dan bertanggungjawab karena ia mengatasnamakan orang lain. Memanggil anak dengan tambahan nama keluarga, misalnya, “Rut anak ibu Naomi”, atau “Daud anak bapak Isai”, akan membuat anak sadar bahwa keberadaan diri dan tingkah lakunya merupakan cerminan kedua orangtua.


2. Biarkan anak berada di antara orang dewasa.
Pada pertemuan, acara-acara atau diskusi untuk keputusan dalam keluarga, seringkali anak-anak dipisahkan. Padahal, membiarkan mereka ikut duduk dan mendengarkan bagaimana cara orang dewasa menyelesaikan persoalan akan mengajarkannya bagaimana menjadi dewasa. Anak pada dasarnya belajar dengan cara mengimitasi orang di sekitarnya. Berada di antara orang yang lebih bijaksana akan mendidik anak belajar bijaksana pula, lebih berharga daripada membiarkan anak terlalu lama bermain dengan anak lain atau main game.

3. Perbanyaklah bercerita mengenai sejarah pahlawan atau tokoh-tokoh bersejarah.
Pahlawan dan tokoh sejarah yang penting artinya bagi umat manusia – perlu diingat ini bukan pahlawan dalam komik atau film kartun – akan mendorong anak untuk meniru keberanian yang digambarkan dari pahlawan itu. Orangtua kini melupakan kisah-kisah sejarah bagaimana para pahlawan iman menjalani hidup imannya dengan penuh pengorbanan sepanjang Alkitab. Cerita mengenai Musa, misalnya. Kisah sejarah yang lebih detil, apalagi dengan cara bernarasi yang menarik, akan lebih berkesan di hati anak, dari kisah-kisah lainnya.

4. Contohkan tingkah laku yang baik.
Contoh lebih baik dari kata-kata. Beberapa tingkah laku yang baik yang perlu dicontoh anak yaitu menghormati orang yang lebih tua, menegur lebih dahulu saat berpapasan orang yang dikenal di jalan, meminta permisi saat melewati orang lain, dan jika berada dalam sebuah kelompok, kelompok yang lebih kecil sebaiknya menyapa kelompok yang lebih besar lebih dahulu.

5. Berikan doa yang baik dan penghargaan yang seharusnya mereka terima di depan orang atau teman lain.
Sebagai contoh, kadang kala anak berhak menerima penghargaan atau bagian yang patut diterimanya, misalnya makanan atau mainan. Namun, orangtua justru memberikan haknya itu kepada adiknya yang lebih kecil karena menganggap itu merupakan hal yang baik. Sebenarnya, anak berapapun umurnya, jika mereka berhak akan apa yang sudah dijanjikan atau yang diterima, maka itu adalah bagiannya. Anak – walaupun pura-pura rela – tidak akan senang memberikan haknya kepada orang lain, walaupun dengan alasan mengalah kepada orang lebih tua atau lebih muda. Supaya tidak membuat mereka marah, sebelum mengambil apa yang telah menjadi haknya, sebaiknya orang tua meminta ijin dahulu baik-baik.

6. Ajaklah anak berolahraga dalam tim.
Olahraga yang mengandalkan kerja sama akan membuat anak lebih bertanggungjawab dan membangun keterampilan mendelegasikan tugas pada orang lain. Olahraga yang mengandalkan kekuatan dan kecermatan juga baik bagi anak, gunanya untuk membangun kontrol mereka terhadap diri sendiri. Olahraga itu seperti memanah (mengontrol konsentrasi), berenang (mengontrol pernafaan) dan berkuda (mengatur hewan piaraan).

7. Jangan mempermalukan anak di depan orang lain.
Orang tua sebaiknya tidak sekali-kali merendahkan ide atau kreatifitas anak, doronglah mereka untuk menjadi bagian dari yang lain.

8. Berkonsultasilah dengan anak.
Untuk beberapa persoalan penting yang menyangkut masa depan anak bicaralah dengan mereka dengan serius, dan tanyalah pendapat-pendapat mereka.

9. Berikan tanggung jawab sesuai usia.
Misalnya, tanggung jawab membersihkan lantai, atau menyetrika baju sendiri, atau mencuci gelas dan piring yang ia gunakan.

10. Ajar dan dorong untuk tampil berani.
Anak yang seringkali gugup dalam beberapa hal bisa jadi karena orang tua mereka sendiri tak pernah mau tampil, atau anak malu dengan keberadaan keluarganya. Orang tua sebaiknya memberi contoh dan memberikan dorongan untuk anak tampil berani termasuk berbicara di depan umum.

11. Yakinkan pakaian yang dikenakan anak cukup pantas.
Memberikan pakaian yang pantas, tidak harus bagus, merupakan salah satu cara membangun kepercayan diri anak. Ajarkan mereka untuk selalu menjaga kebersihannya. Bedakan pakaian untuk anak laki-laki dan perempuan, sehingga mereka tidak akan malu di depan teman-temannya.

12. Jangan terlalu memanjakan.
Ukuran memanjakan anak dengan kekayaan dan fasilitas memang relatif, apalagi bagi keluarga berpunya. Tapi, ingatlah selalu, bahwa belajar dari kekurangan akan selalu lebih baik.

13. Jangan biarkan anak bermalas-malasan.
Banyak nonton televisi, membeli banyak kaset, atau VCD yang pada dasarnya hanya akan membuang waktu percuma. Hal-hal ini akan mengurangi kekuatan badan, kehormatan dan keseriusan mereka dalam menyelesaikan satu masalah.

Share this:

Related Posts
Disqus Comments